Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kerang Hijau di Perairan Monosari Demak

Kerang Hijau di Perairan Monosari Demak

Kerang hijau umum digunakan sebagai bioindikator pencemaran lingkungan di ekosistem laut karena memiliki persebaran yang luas. Perairan Monosari, Demak merupakan salah satu pesisir yang potensial mengalami pencemaran lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Falah et al. (2018), menunjukkan kandungan Pb di perairan Monosari, Demak pada kerang berkisar antara 2,790 mg/kg sampai 26,667 mg/kg sedangkan kandungan Cu berkisar antara 3,761 mg/kg sampai 30,167 mg/kg. Penelitian tersebut menunjukkan kandungan Pb dan Cu pada kerang hijau telah melewati ambang batas yang ditentukan. Logam berat Pb dan Cu bersifat menetap dan toksik serta dapat terakumulasi dalam tubuh organisme melalui rantai makanan. (dikutip dari: Alvi Akhmad Arifin dkk. Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro). 

Tan (Suwigyo et al, 1984) menyatakan bahwa diatom dan detritus merupakan makanan utama kerang hijau dibanding larva bivalvia dan gastropoda. Dalam siklus hidupnya, kerang hijau juga menghadapi banyak musuh di alam, di antaranya yaitu ranjungan (Portunus sp.), gurita (Octopus sp.), ikan (Monacanthus sp.) dan bintang laut yang merupakan predator utama dan paling aktif. Dalam percobaan laboratorium menunjukkan bahwa ikan juga aktif memangsa kerang tersebut, tetapi di alam belum diketahui secara pasti (Tan, 1975).

Pernyataan yang sesuai dengan konsep biomagnifikasi pada kutipan adalah . . .
A. kadar logam Pb dan Cu akumulasi terbesar terjadi pada kerang hijau
B. kandungan logam Cu dan Pb pada bintang laut lebih rendah dibanding kerang hijau
C. akumulasi logam Pb dan Cu pada kerang hijau lebih rendah dibanding pada gastropoda
D. akumulasi logam Cudan Pb pada bintang laut lebih tinggi dibandingkan kerang hijau 

Jawaban yang tepat adalah A

Post a Comment for "Kerang Hijau di Perairan Monosari Demak"